Friday, September 23, 2011

FUYUZAKURA

Wanna to sharing something :D Hope you like it! Enjoy~
_____________________________________________________________________

Disclaimer: all the characters are property of Masashi Kishimoto. I just borrowed them to stir up the story, and tell you the meaning :)

Fuyuzakura

© Evey

Special dedicated for Sasusaku Fan Festival Day

Musim dingin menghembuskan nafas bekunya. Salju berjatuhan dari hari ke hari, dan suhu berubah. Spesies bunga dan tumbuhan mekar silih berganti. Di padang, bunga krokus ditemukan tumbuh bergerombol dengan salju di kelopak mereka. Air sungai berkilau-kilau. Hangatnya sinar matahari sudah jarang dirasakan, sementara langit pucat selalu memayungi individu-individu di bawah sana. Yang bergerak berdampingan dengan waktu.

Karena waktu jualah, perubahan itu ada.

Musim berganti. Matahari bertukar posisi dengan bulan. Warna langit berubah. Bunga bermekaran dan gugur dalam siklus yang tak bisa dihilangkan satu saja komponennya.

Keadaan berubah. Airmata tertukar dengan senyum—atau sebaliknya. Hati yang dulu keras perlahan melicin—sekali lagi, atau sebaliknya.

Manusia tak punya kuasa untuk menentukan perubahan alami itu. Tangan Tuhan-lah yang mengatur segalanya; pergerakan bintang, orbitan mereka, suara meteor yang melesat—bumi yang bergerak, waktu yang berjalan… semuanya.

Tuhan jugalah yang mengakhiri suatu peristiwa dan membawanya ke yang lain.

Maka waktu berdendang di sela-selanya. Sampai di suatu titik ketika perubahan itu berhenti untuk sejenak—diam barang sesaat. Menyampaikan halus maknanya, tajam maksudnya.

Kembalinya Sasuke ke Konoha jelas merupakan satu di antara sekian banyak perubahan itu.

Senyum terlukis berulangkali. Sebagian mengira keadaan akan baik-baik saja setelah sang pengkhianat kembali, karena artinya Konoha takkan rusak lagi. Terlebih karena Tsunade juga sudah bangun dari koma-nya. Sang pahlawan mendapat kembali sahabat karibnya, sang guru jenius akan melihat bagaimana muridnya kini… dan sang gadis musim semi… Ia pasti bahagia, begitu asumsi orang-orang. Dengan mata kepala, mereka melihat bagaimana di suatu hari musim gugur—di tengah warna-warna daun yang keemasan, tepat sesudah pertarungan besar antara kedua sahabat selesai—dua sosok dipapah Sakura memasuki gerbang desa. Sebuah rombongan kecil mengikuti di belakang dengan wajah mereka yang asing bagi para warga Konoha.

Masa rehabilitasi dan peradilan. Kebenaran yang ditarik ke luar ke permukaan. Sesuatu di balik pembantaian Klan Uchiha. Yang bersalah dijatuhi hukuman berat, yang tidak bersalah dibiarkan tersenyum menyambut musim yang berganti.

…lalu ada di manakah Sasuke itu? Mereka yang bersalah ataukah tidak?

Sang gadis musim semi—Sakura Haruno, masih mencari-cari jawabannya. Dan tidak seperti kebanyakan orang, bahkan Naruto sekalipun, Sakura tahu ada sesuatu yang salah pada diri Sasuke.

Kalau mau bicara lewat kacamata medis, gadis itu akan dengan mudah menuding bahwa pandangan Sasuke terlalu kosong dan bahwa suhu badannya naik-turun. Masa iya kena demam permanen? Luka Sasuke juga kini sukar sembuh.

Apakah kekurangan trombosit? awalnya begitu pikir Sakura. Dan pikiran itu disambung kemungkinan bahwa Sasuke terkena demam berdarah. Sebagai salah satu ninja medis, dia bertanggung jawab. Tapi Sasuke baik-baik saja, tak mengidap penyakit apa-apa—itulah yang membuat Sakura cemas. Kalau baik-baik saja, kenapa reaksi tubuh si pemuda tergolong tidak wajar?

Dari sudut pandang seorang yang masih mencinta—walaupun jumlah harapan menipis setiap saat, ia akan mengemukakan betapa emosi Sasuke sama sekali tidak stabil. Moody dan brutal. Sepi dari rasa simpati ataupun empati—kemanakah bayangan pangeran impiannya bertahun-tahun yang lalu? … atau apakah selama itu ia hanya bermimpi? Karena sudah menyadari itulah, Sakura menelan kenyataan yang menyentuh getir kerongkongan pemahamannya.

Walaupun hal-hal bergerak dan berubah, sekalipun waktu menemani mereka di antara jeda dan ruang hampa… ada hal-hal yang takkan bisa kembali seperti semula.

Kadang keadaan baik hanya tiba sekali saja dalam seumur hidup.

Waktu latihan tak lagi menjadi momen yang menyenangkan. Tim 7 yang sudah kembali bersama tak lagi mengalami saat-saat indah yang penuh canda dan tawa. Mereka sudah terbentuk di jalur masing-masing, sehingga kalaupun sudah bersama lagi bukan berarti sudah disatukan.

Percakapan di antara dua sahabat—Sasuke dan Naruto bahkan terdengar asing di telinga Sakura yang kerap menonton.

Ada apakah?

Tapi pertanyaannya lekas diterbangkan angin yang berdesau, mengawang sia-sia di cakrawala monokrom.

Ditugaskan Tsunade dalam kelompok kecil yang menangani kesehatan Sasuke secara langsung, Sakura menjadi sering berkunjung ke Uchiha Mansion. Di sana, matanya tanpa sengaja tertumbuk pada sebuah pohon di halaman yang luas. Nafasnya tercekat.

"Sejak kapan di sana ada pohon, Sasuke-kun?" tanyanya sambil mengobati luka Sasuke setelah berlatih.

"… sejak kembali ke sini, pohon itu sudah ada di sana. Mungkin ada yang menanamnya."

"Tapi yang aneh," Sakura meletakkan obat antiseptik ke atas ranjang dan beringsut mendekati jendela. Ia memandang pohon Sakura itu yang mekar berbunga dengan butiran salju di rantingnya. "Kenapa malah pohon itu mekar di saat dingin begini?"

Tak ada jawaban. Sakura menoleh, tepat ketika Sasuke terbatuk dan memuntahkan darah ke telapak tangannya.

"Astaga…" desisnya kaget. Ia meraih telapak tangan Sasuke—yang langsung disergah.

"Aku tak apa-apa," pemuda itu menghindar. Darah terciprat menodai bagian depan baju Sakura.

"Ya benar. Kau tak apa-apa sampai muntah darah begini," dengan cekatan ia membersihkan dan membereskannya. Disuruhnya Sasuke untuk tidur sementara ia memandangi pohon Sakura di halaman Uchiha Mansion lagi.

Pohon sakura di musim dingin…

Bunganya mekar tanpa gentar…

Kunjungan berikutnya, saat rutinitas pengecekan kesehatan Sasuke yang tampaknya semakin memburuk, pohon sakura itu masih berdiri tegak di sana. Suatu kali, saat Sasuke terlelap sesudah batuk dan muntah darah selama 10 menit, Sakura menarik bangku ke dekat jendela dan memandang pohon sakura di sana.

Batangnya berwarna cokelat keabu-abuan. Dahan dan rantingnya menjulur ke atas, melengkung, kemudian membuka—dan di sepanjang ranting itulah berjejer kelopak-kelopak indah berwarna putih bersemu merah muda. Mereka sungguh menawan. Keindahan yang baru kali ini dilihat Sakura. Sebelumnya ia hanya pernah melihat bunga sakura di musim semi, atau tatkala hanami. Sebuah anomali untuk memandang bunga-bunga jelita itu di kala musim dingin.

Betapa tegar.

Saat itulah ia teringat akan pembicaraannya dengan Ino beberapa waktu lalu. Ino bilang nama pohon sakura semacam itu ialah fuyuzakura.

Sakura musim dingin…

Suara batuk kembali menyadarkannya dari lamunan indah. Dalam sekejap ia berniat membawa Sasuke ke rumah sakit esok hari.

"…cukup buruk," ucapan Tsunade membuat kadar khawatir dalam diri Sakura berekskalasi puluhan kali lipat. "Kau memperhatikan gejala-gejala koma?"

"Gejala koma?" Sakura menaikkan alisnya.

"Dia hampir koma karena ini semua. Aku juga tak tahu apa masalahnya tapi kuduga ini karena pertarungan-pertarungan yang ia lalui. Ia membunuh Orochimaru. Melawan Deidara. Bertarung dengan Danzo. Sudah berapa kali tubuhnya mengeluarkan jurus, jutsu, atau teknik terlarang sampai semua itu cukup untuk membunuhnya perlahan-lahan?"

Yang Sakura tahu, jawabannya adalah sudah berulangkali.

"Perawatan intensif di rumah sakit, Sakura. Kutugaskan kau sebagai satu-satunya perawat. Sekalinya ada tanda-tanda aneh, hubungi aku."

"Bagaimana aku harus mengatakannya pada Naruto, Kakashi-sensei, juga Sai?"

"…lebih tepat kalau kau bilang bagaimana aku harus memberitahu diriku, Sakura. Aku bisa melihat kau lebih takut dibanding siapapun."

Musim dingin yang pahit dan jahat. Sakura tak pernah lagi melihat fuyuzakura di Uchiha Mansion karena kegiatannya terpusat di rumah sakit. Ia sudah jarang berlatih bersama timnya—tapi sebagai kompensasi, untunglah tim 7 juga sering datang menjenguk Sasuke.

Sakura mengerti bagaimana perasaan anggota tim yang lain, terutama Naruto. Dengan mata biru yang menyiratkan penyesalan, ia bertanya pada Sakura. "Apakah semua kerusakan tubuhnya ini… antara lain disebabkan oleh pertarunganku dengannya?"

Sang gadis mengangguk. "Bisa jadi."

"Apakah dia bisa sembuh?"

"Aku juga ingin bertanya tentang hal itu, Naruto."

Hari-hari yang dilapisi salju berakhir ketika sungai tak lagi membeku dan airnya mengalir dari hulu ke hilir. Bunga krokus lenyap digantikan semerbak mawar dan yang lainnya. Matahari kembali memeluk semua dalam kehangatannya dan langit tak lagi pucat memandang.

Fuyuzakura itu berguguran bunganya. Sakura melihatnya sekilas dalam perjalanan ke rumah sakit, bagaimana pohon sakura musim dingin di halaman Uchiha Mansion yang kosong itu kehilangan kelopak bunganya satu per satu. Di hari ketiga musim semi, batang fuyuzakura menjelma gundul.

Perubahan lagi. Pergantian musim ditandai dengan sakit Sasuke yang semakin parah.

Hati Sakura pecah dalam diam.

Tak adakah yang bisa kulakukan?

Ada kalanya waktu mengalun melankolis, lain kali maka akan berdendang rancak. Terkadang temponya lambat, meninabobokan—tapi pernah juga melaju seperti dikejar setan.

Ketika itu—setelah fuyuzakura gugur, Sakura memperhatikan bagaimana siang dan malam memanjang dalam cara yang aneh, sejauh estimasinya.

… mungkin juga ia merasa demikian karena kini siang dan malam dihabiskanya di sebelah Sasuke—memperhatikan bagaimana kulit pemuda itu memucat, bibirnya memutih, matanya jarang terbuka, dan suhunya selalu dingin.

Sakura ingin tahu bagaimana kondisi hati Sasuke sekarang. Apakah sudah turut rusak bersama raganya, ataukah masih bisa bertahan di sela gempuran takdir.

"Kau harus sehat lagi. Kami semua merindukanmu. Kami semua menantimu," di sela sebuah malam, Sakura mengecup kening pemuda itu. Membisikkan resah kalbunya.

Satu tahun yang kelabu bagi Sakura sudah berlalu. Hari-hari yang ia habiskan di sisi Sasuke untuk merawatnya, memberinya semangat. Mengantarkan susu hangat di saat hujan dan jus tomat di siang hari yang panas. Bahkan kadang, gadis itu rela menginap di Uchiha Mansion kalau sakit Sasuke kambuh.

Di depan matanya kini ialah pemandangan pohon-pohon yang telah kehabisan daun keemasan mereka, serta tanah yang serpihannya samar. Saat helai daun terakhir jatuh, musim dingin kembali datang membawa memori.

Sakura berharap ada perubahan lagi kecuali pergantian musim.

Kumohon, Sasuke-kun, cepatlah sembuh…

Fuyuzakura seolah mengerti bagaimana perasaan Sakura dan dengannya mencoba menghapus nestapa di hati sang gadis musim semi. Bunganya mekar lebih cantik ketimbang tahun lalu. Sakura hanya bisa memandang dengan mata yang bersemai airmata setiap ia melintas di dekat Uchiha Mansion.

… kalau boleh jujur, ia ingin menikmati indahnya fuyuzakura bersama tim 7.

… bersama Sasuke.

"Bagaimana rupa kematian itu, Sakura?"

Yang ditanya terperangah. "Aah… Kenapa kau menanyakan hal seperti itu, Sasuke-kun?"

"Aku ingin tahu. Dan kau adalah ninja medis. Jadi kau pasti tahu," keluar nada mengintimidasi khas Sasuke. Dia yang biasanya bicara dalam diam kini menuntut jawaban.

"Entahlah. Aku belum pernah mati. Para pasien tak pernah memberitahuku bagaimana sakaratul maut itu, hanya ekspresi mereka yang menjelaskan. Ada yang kesakitan, ada yang tersenyum menjelang kematiannya," Sakura membenahi ranjang rumah sakit Sasuke.

"Aku ingin menghadapi kematian dengan cara yang mudah."

"Kedengarannya bukan seperti kau, Sasuke-kun," Sakura ragu-ragu sejenak, namun kemudian meraih tangan Sasuke dan merangkumnya. "Bukannya kau selalu mengambil resiko? Tenanglah. Kau takkan menghadapi kematian itu. Aku janji. Sekalipun kau akan menghadapinya, maka kau takkan sendiri."

Sang pemuda menarik tangannya. Membuang muka. Saat bicara, suaranya membekukan. "Yakin sekali kau."

"Tentu saja. Sebab akulah yang akan menemanimu."

Sama seperti fuyuzakura itu, yang selalu menemani musim dingin…

Tak ada yang tahu bahwa apa yang dikatakan Sasuke benar-benar terjadi di penghujung musim dingin. Semua obat sudah dicoba untuk meredam sakit yang menjalar, tapi hasilnya nihil. Sakura dan semua ninja medis bekerja siang malam. Tsunade mengawasi 24 jam bersama Sakura. Namun di setiap detik, meskipun Sasuke tak mengeluh, mereka tahu bahwa ini sudah mendekati waktunya.

Seberapapun Sakura menyangkal, ia tahu, kematian Sasuke sudah dekat.

Ia mencoba kuat untuk Sasuke dan dirinya sendiri.

"Tenanglah, Naruto," ditepuknya pundak Naruto yang merosot turun ketika Tsunade memberitahukan hal krusial mengenai hidup Sasuke itu. "Semua akan baik-baik saja… Kita bisa melewatinya. Sasuke-kun akan sembuh."

"Tapi kau bilang kau sendiri tak tahu apakah Sasuke bisa sembuh, Sakura-chan…"

itu benar.

Maka tak bisakah kau lihat aku juga menderita? Aku, siang malam memantau keadaannya, dan diam-diam tahu bahwa semua ini akan sia-sia. Namun karena kau, aku belajar berharap dan bermimpi, Naruto. Belajar untuk tegar.

Layaknya fuyuzakura.

Dua hari terakhir musim dingin. Sasuke minta dipulangkan ke Uchiha Mansion, dan Sakura memapah pemuda itu. Ia tak bisa tak tersenyum begitu melihat fuyuzakura yang ia rindukan, meski senyumnya menyembunyikan ngilu di hati. Jadi? Semua ini akan berakhir? Sasuke akan mati sebentar lagi?

Pikirannya tak meleset. Malam itu Sasuke terserang demam, dan sampai mengigau. Kedua kalinya Sakura melihat Sasuke mengigau… yang pertama kali adalah ketika mereka menjalani Ujian Chuunin. Persis seperti waktu itu, Sasuke juga menggenggam erat-erat tangannya tanpa sadar. Di sela-sela nafasnya yang memburu, Sasuke mengucapkan sesuatu seperti kata maaf danSakura. Sakura sendiri, karena sudah berjanji akan menemani pemuda itu di ajalnya, balas menggenggam tangan Sasuke—yang rasanya seperti silikon, bukan daging. Ia terjaga semalaman, memperhatikan siluet fuyuzakura itu di kegelapan. Kadang matanya mengamati gemintang yang memukau di langit.

Bibirnya tak pernah lelah melirihkan do'a.

Esok harinya. suhu tubuh Sasuke turun. Sakura sedikit bisa bernapas lega. Ia mondar-mandir seharian antara kamar Sasuke dengan wastafel, mengurus kompres dan obat-obatan. Ketika sore hari suhu Sasuke naik lagi, bahkan sempat pingsan untuk tiga jam. Malam tiba persis seperti tempo hari. Yang membedakan hanyalah salju yang sempat turun sejenak. Sakura keheranan melihatnya, bukankah ini sudah hari-hari akhir musim dingin? Kenapa masih ada salju?

Ataukah mereka hendak mengucapkan selamat tinggal?

Ia sendiri menolak mengucapkannya untuk Sasuke. Ia masih hendak berpegang pada harapan rapuh bahwa Sasuke bisa sembuh dan kembali seperti sedia kala.

Tatkala pagi dijelang oleh kicau rendah burung-burung di selasar Uchiha Mansion, yang pertama Sakura lihat ialah fuyuzakura—dengan bunganya yang berjatuhan, dan sinar matahari yang bermain di sela rantingnya. Ranting itu tak lagi bersemburat abu-abu. Pertanda bahwa musim dingin sudah diakhiri dan musim semi baru saja membuka gerbangnya.

Mencoba menahan rasa sakit yang mendera begitu kencang, Sakura melirik sosok yang terbaring di atas futon. Gemetar, dirabanya nadi Sasuke. Jantungnya serasa berhenti berdegup begitu ia berbenturan dengan kenyataan.

Dan tak ada yang pernah bilang kalau benturan itu tidak sakit. Dalam sekejap, airmata meluncur keluar dari mata emerald itu. Membasahi tulang pipinya, mengalir di atas bibirnya yang kering dan pecah-pecah.

Ia menarik kepala Sasuke ke pangkuan, menghadap ke halaman yang menyajikan pemandangan fuyuzakura di sisa waktu hidupnya.

Bersamaan dengan berakhirnya musim dingin, dimulainya musim semi, dan sirnanya bunga fuyuzakura, orang yang Sakura cintai juga melayang lepas ruh dan jiwanya.

"Aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal, iya kan, Sasuke-kun…? Aku menolak mengatakan perpisahan. Tapi pada akhirnya aku kalah, dan aku belum bilang apa-apa…" bisiknya tersendat-sendat di telinga pemuda itu. Ia berharap Sasuke bisa mendengarnya walau Sakura tahu lebih baik dari itu, dan sama saja dengan tak ada respon.

Kau sudah mengarungi hidup yang keras. Terkadang tanpa lentera. Berkali-kali jatuh ke jurang. Aku berharap malaikat telah mencabut nyawamu dengan cara yang paling mudah… Dan kuharap—kau bisa sampai di surga, bersama dengan do'aku juga do'a yang lain. Bersama dengan salju yang mencair. Bersama dengan fuyuzakura itu, yang kini tak punya bunga di rantingnya lagi.

Selamat jalan, Sasuke-kun…

Dan dia kembali memandang fuyuzakura gundul itu dengan simbahan airmata serta torehan luka di hatinya yang nganga, rasanya seperti digarami. Jemarinya membelai rambut Sasuke di pangkuannya, merasakan dingin tubuh yang tak bernyawa itu. Sejurus kemudian, Sakura mendengar suara Sasuke. Sayup-sayup, seperti dari kejauhan.

"Arigatou."

Pastilah suara itu dari surga di atas sana.

Apakah bunga fuyuzakura yang gugur juga ada di atas sana, Sasuke-kun? Berserakan? Sebagai penggantiku, kuharap mereka bisa menemanimu…

Owari

___________________________________________________________________________

Meski endingnya hm... sedih. Tapi seneng tiap baca ulang :)

No comments:

Post a Comment