Monday, April 20, 2015

Tempat Nongkrong Baru Buatan Alumni : Campus Coffee

          Keberadaan cafe minimalis dengan desain yang menarik, menjadi pemandangan yang sudah tidak asing lagi bagi kita di kampus UNIKA Atma Jaya Semanggi. Dikenal dengan nama Campus Coffee, keberadaannya menambahkan warna dan ragam kuliner di kampus kita tercinta. Resmi dibuka pada tanggal 20 Februari 2015 lalu, Campus Coffee ini langsung ramai dibanjiri oleh mahasiswa yang merasa penasaran dan tertarik oleh keunikan desain dari Campus Coffee. Campus Coffee hadir dengan menu berbagai macam minuman terutama kopi dan makanan ringan seperti snack, roti dan kue dengan harga yang akrab dengan saku mahasiswa, yaitu mulai dari harga lima belas ribu sampai dengan tiga puluh ribu rupiah. Campus Coffee berlokasi di samping Gedung D dekat dengan toko-toko berbasis bisnis komersil lainnya yang sebelumnya sudah ada di UNIKA Atma Jaya.
Campus Coffee memiliki penampilan yang berbeda dengan tempat ‘nongkrong’ lainnya di dalam kampus Semanggi sehingga membuatnya nampak mencolok. Dominan terbuat dari kaca yang tembus pandang memungkinan kita untuk dapat melihat isi dan desain interior Campus Coffee dari luar. Kedatangan kita di Campus Coffee akan langsung disambut hangat oleh harum kopi yang sangat kental, udara sejuk dan juga alunan musik klasik. Memiliki kapasitas untuk dua puluh orang rupanya kurang, dilihat dari banyaknya pelanggan Campus Coffee yang mengantre dan kebingungan mencari tempat duduk. Meski begitu, masalah kapasitas sendiri tidak lantas membuat mahasiswa enggan memanjakan indera pengecap mereka di Campus Coffee. Banyak juga mahasiswa yang datang membeli minuman lalu membawanya ke tempat lain. Kebutuhan para pengunjung dapat dilayani dengan baik oleh lima staff Campus Coffee yang selalu standby sesuai shift kerja mereka.
         Keberadaan Campus Coffee ini berawal dari ide yang dicetuskan oleh keenam alumni Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya tahun 1971. Ide ini untuk menjawab kebutuhan akan tempat berkumpulnya para alumni. Selain itu mereka juga merasa rindu akan kampus tercinta mereka sehingga dibuatlah Campus Coffee ini di kampus Semanggi. Pada saat tahun 1971 Fakultas Kedokteran Atma Jaya masih berada di Semanggi, oleh sebab itu Campus Coffee dibuat di kampus Semanggi bukan di tempat Fakultas Kedokteran UAJ sekarang berada, yaitu di Pluit. Setiap harinya ada seorang dari keenam alumni pencetus Campus Coffee yang mengawasi segala kegiatan Campus Coffee secara bergantian. “Kami berenam memiliki kesibukan sendiri, ada yang jadi dosen dan juga dokter. Namun kita sudah berkomitmen bahwa pasti akan ada waktu untuk Campus Coffee,” ujar Meiwita Budiharsana Iskandar selaku salah satu dari enam alumni FK UAJ 1971. Beliau juga berkata bahwa Campus Coffee ini masih dalam tahap percobaan. Meski selalu ramai, namun belum bisa diputuskan bahwa Campus Coffee ini sukses atau tidak karena keberadaannya masih kurang dari enam bulan.  Sebisa mungkin alumni yang sedang berjaga selalu menuliskan evaluasi setiap harinya dan mencari tahu apa keinginan dari para konsumen yang belum tersedia di Campus Coffee. Hal ini perlu dilakukan untuk perkembangan Campus Coffee kedepannya.
           Berawal dari ide untuk menyediakan tempat bagi para alumni berkumpul, nyatanya Campus Coffee ini justru malah ramai dikunjungi oleh mahasiswa dan keberadaan alumni justru intensitasnya lebih kecil. Hal ini menjadi pertanyaan besar, apakah visi dan misi dari Campus Coffee sudah melenceng jauh dari ide awal terbentuknya? Menurut Ibu Meiwita kehadiran mahasiswa yang membeludak menjadi salah satu dari beberapa kendala yang dihadapi oleh Campus Coffee. Alasannya adalah bagi para alumni tahun 1971 ada kesulitan untuk memahami keinginan dan juga selera anak muda pada zaman sekarang. Bisa jadi selera para mahasiswa di tahun 2000-an berbeda jauh dengan mereka para alumni. Memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan maksimal membuat para alumni ini ingin memenuhi semua keinginan dan kebutuhan para mahasiswa yang menjadi pelanggan Campus Coffee. Oleh karena itu dalam waktu beberapa bulan pertama ini para alumni menjalani Campus Coffee sambil terus melakukan penelitian. Lagi pula mereka tidak pernah menyangka Campus Coffee akan ramai oleh mahasiswa, namun hal ini selain menjadi kendala juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi para alumni karena hal ini menunjukkan bahwa Campus Coffee menerima kesan positif dari mahasiswa.

(tampilan luar Campus Coffee)

(tampilan dalam Campus Coffee)

(Campus Coffee yang ramai dengan mahasiswa)

Dapat ditemui banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu kosongnya di Campus Coffee. Ada mahasiswa yang nampak asik berbincang dengan teman mereka sambil menikmati secangkir kopi, ada yang sibuk membaca buku kesukaan mereka dan bahkan ada pula dari mereka yang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Kemunculan Campus Coffee ini seolah menjadi trend dikalangan mahasiswa UNIKA Atma Jaya Semanggi. Dibuka dari pk. 8.00 – pk.18.00 WIB, Campus Coffee tidak pernah luput dari keramaian mahasiswa. Rupanya ada beberapa alasan yang membuat mahasiswa betah dan menjadi rutin mengunjungi Campus Coffee. “Tempatnya nyaman banget, desainnya oke!” ujar Ryan Kurniawan mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi 2014 yang menyampaikan kesan pertamanya saat ke Campus Coffee. Berbagai alasan disampaikan oleh pengunjung Campus Coffee dan rata-rata dari mereka menyatakan bahwa kenyamanan yang menjadi poin utama dari tempat ini. Wangi kopi, alunan musik klasik, tersedianya banyak colokan listrik, udara sejuk dan bisa menikmati kopi dengan harga murah telah memikat hati kebanyakan mahasiswa. “Kalau sudah penat kelas pas ada jeda waktu emang enaknya ke sini. Meski banyak mahasiswa lain tapi tetap saja tempatnya cukup tenang dan wangi kopinya bikin rileks,” komentar Christopher Natanael yang mengaku sering menghabiskan waktu bersantai di Campus Coffee.
Seperti yang kita ketahui, selain Campus Coffee ada juga tempat ‘nongkrong’ yang serupa. Le Cafe milik prodi Hospitality sudah lebih dulu bergelut dibidang ini. Meskipun Le Cafe yang merupakan laboratorium milik prodi Hospitality selama ini menjadi satu-satunya cafe yang memanjakan pengecap mahasiswa dengan menu-menu andalannya, rupanya kemunculan Campus Coffee tidak meresahkan mereka. Le Cafe memberikan pelayanan bagi mahasiswa, dosen maupun alumni. Salah mahasiswa Hospitality yang sedang berjaga di Le Cafe, yaitu Bryan Dwiputra angkatan 2012 menyampaikan bahwa harapan mereka akan meningkatnya jumlah pelanggan telah terwujud oleh sebab itu mereka tidak resah akan kehadiran Campus Coffee karena menurut mereka orang yang mengerti tetang kopi pasti akan memilih Le Cafe. Rasa menjadi nilai jual utama yang diandalkan oleh Le Cafe. Rupanya, Campus Coffee sendiri mengaku tidak menganggap Le Cafe sebagai saingannya. “Kita tidak merasa Le Cafe sebagai saingan, karena saya yakin kita memiliki kualitas, profesionalitas dan rasa yang berbeda. Jadi itu semua tergantung selera,” komentar Ibu Meiwita.  Dari sudut pandang kebanyakan mahasiswa sendiri, kehadiran Le Cafe dan Campus Coffee di kampus Semanggi bukan sesuatu yang harus dibanding-bandingkan. Masing-masing memiliki kelebihan dan ciri khas sendiri. Margareta Dea, salah satu mahasiswa yang menjadi penikmat kopi di Le Cafe dan Campus Coffee berkomentar, “Campus Coffee desainnya lebih menarik dan tempatnya lebih cozy, kalau Le Cafe tempatnya agak ramai dan ribut. Tapi kalau soal rasa dua-duanya sama-sama enak.”


(tampilan luar Le Cafe)

(tampilan dalam Le Cafe)

Kehadiran Campus Coffee dan Le Cafe memperkaya pilihan ‘nongkrong’ di kampus UNIKA Atma Jaya Semanggi tidak hanya untuk mahasiswa tetapi juga bagi para dosen dan alumni. Kedunya sama-sama menyediakan kopi terbaik dan makanan ringan yang cukup memanjakan lidah. Le Cafe mengandalkan kualitas rasa kopi mereka, sedangkan Campus Coffee lebih mengandalkan desain yang menarik dan kenyamanan bagi pelanggan. Perbedaan yang cukup signifikan di antara keduanya adalah Le Cafe menyediakan pelayanan dari mahasiswa Hospitality sendiri sedangkan Campus Coffee menggunakan tenaga kerja profesional. 

No comments:

Post a Comment