Keberadaan cafe
minimalis dengan desain yang menarik, menjadi pemandangan yang sudah tidak
asing lagi bagi kita di kampus UNIKA Atma Jaya Semanggi. Dikenal dengan nama
Campus Coffee, keberadaannya menambahkan warna dan ragam kuliner di kampus kita
tercinta. Resmi dibuka pada tanggal 20 Februari 2015 lalu, Campus Coffee ini
langsung ramai dibanjiri oleh mahasiswa yang merasa penasaran dan tertarik oleh
keunikan desain dari Campus Coffee. Campus Coffee hadir dengan menu berbagai
macam minuman terutama kopi dan makanan ringan seperti snack, roti dan kue
dengan harga yang akrab dengan saku mahasiswa, yaitu mulai dari harga lima
belas ribu sampai dengan tiga puluh ribu rupiah. Campus Coffee berlokasi di
samping Gedung D dekat dengan toko-toko berbasis bisnis komersil lainnya yang
sebelumnya sudah ada di UNIKA Atma Jaya.
Campus
Coffee memiliki
penampilan yang berbeda dengan tempat ‘nongkrong’ lainnya di dalam kampus
Semanggi sehingga membuatnya nampak mencolok. Dominan terbuat dari kaca yang
tembus pandang memungkinan kita untuk dapat melihat isi dan desain interior
Campus Coffee dari luar. Kedatangan kita di Campus Coffee akan langsung disambut
hangat oleh harum kopi yang sangat kental, udara sejuk dan juga alunan musik
klasik. Memiliki kapasitas untuk dua puluh orang rupanya kurang, dilihat dari
banyaknya pelanggan Campus Coffee yang mengantre dan kebingungan mencari tempat
duduk. Meski begitu, masalah kapasitas sendiri tidak lantas membuat mahasiswa
enggan memanjakan indera pengecap mereka di Campus Coffee. Banyak juga
mahasiswa yang datang membeli minuman lalu membawanya ke tempat lain. Kebutuhan
para pengunjung dapat dilayani dengan baik oleh lima staff Campus Coffee yang
selalu standby sesuai shift kerja mereka.
Keberadaan Campus Coffee ini
berawal dari ide yang dicetuskan oleh keenam alumni Fakultas Kedokteran UNIKA
Atma Jaya tahun 1971. Ide ini untuk menjawab kebutuhan akan tempat berkumpulnya
para alumni. Selain itu mereka juga merasa rindu akan kampus tercinta mereka
sehingga dibuatlah Campus Coffee ini di kampus Semanggi. Pada saat tahun 1971
Fakultas Kedokteran Atma Jaya masih berada di Semanggi, oleh sebab itu Campus
Coffee dibuat di kampus Semanggi bukan di tempat Fakultas Kedokteran UAJ
sekarang berada, yaitu di Pluit. Setiap harinya ada seorang dari keenam alumni
pencetus Campus Coffee yang mengawasi segala kegiatan Campus Coffee secara
bergantian. “Kami berenam memiliki kesibukan sendiri, ada yang jadi dosen dan
juga dokter. Namun kita sudah berkomitmen bahwa pasti akan ada waktu untuk
Campus Coffee,” ujar Meiwita
Budiharsana Iskandar selaku salah satu dari enam alumni FK UAJ 1971. Beliau
juga berkata bahwa Campus Coffee ini masih dalam tahap percobaan. Meski selalu
ramai, namun belum
bisa diputuskan bahwa Campus Coffee ini sukses atau tidak karena keberadaannya
masih kurang dari enam bulan. Sebisa
mungkin alumni yang sedang berjaga selalu menuliskan evaluasi setiap harinya
dan mencari tahu apa keinginan dari para konsumen yang belum tersedia di Campus
Coffee. Hal ini perlu dilakukan untuk perkembangan Campus Coffee kedepannya.
Berawal dari ide untuk
menyediakan tempat bagi para alumni berkumpul, nyatanya Campus Coffee ini
justru malah ramai dikunjungi oleh mahasiswa dan keberadaan alumni justru
intensitasnya lebih kecil. Hal ini menjadi pertanyaan besar, apakah visi dan
misi dari Campus Coffee sudah melenceng jauh dari ide awal
terbentuknya?
Menurut Ibu Meiwita kehadiran mahasiswa yang membeludak menjadi salah satu dari
beberapa kendala yang dihadapi oleh Campus Coffee. Alasannya adalah bagi para
alumni tahun 1971 ada kesulitan untuk memahami keinginan dan juga selera anak
muda pada zaman sekarang. Bisa jadi selera para mahasiswa di tahun 2000-an berbeda
jauh dengan mereka para alumni. Memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan
maksimal membuat para alumni ini ingin memenuhi semua keinginan dan kebutuhan
para mahasiswa yang menjadi pelanggan Campus Coffee. Oleh karena itu dalam waktu beberapa bulan pertama
ini para alumni menjalani Campus Coffee sambil terus melakukan penelitian. Lagi pula
mereka tidak pernah menyangka Campus Coffee akan ramai oleh mahasiswa, namun
hal ini selain menjadi kendala
juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi para alumni karena hal ini
menunjukkan bahwa Campus Coffee menerima kesan positif dari mahasiswa.
(tampilan luar Campus Coffee)
(tampilan dalam Campus Coffee)
(Campus Coffee yang ramai dengan mahasiswa)
Dapat
ditemui banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu kosongnya di Campus Coffee.
Ada mahasiswa yang nampak asik berbincang dengan teman mereka sambil menikmati
secangkir kopi, ada yang sibuk membaca buku kesukaan mereka dan bahkan ada pula
dari mereka yang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Kemunculan Campus Coffee ini
seolah menjadi trend
dikalangan mahasiswa UNIKA Atma Jaya Semanggi. Dibuka dari pk. 8.00 – pk.18.00
WIB, Campus Coffee tidak pernah luput dari keramaian mahasiswa. Rupanya ada
beberapa alasan yang membuat mahasiswa betah dan menjadi rutin mengunjungi
Campus Coffee. “Tempatnya nyaman banget, desainnya oke!” ujar Ryan Kurniawan
mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi 2014 yang menyampaikan kesan pertamanya saat ke
Campus Coffee. Berbagai alasan disampaikan oleh pengunjung Campus Coffee
dan rata-rata dari mereka menyatakan bahwa kenyamanan yang menjadi poin utama
dari tempat ini. Wangi kopi, alunan musik klasik, tersedianya banyak colokan
listrik, udara sejuk dan bisa menikmati kopi dengan harga murah telah memikat
hati kebanyakan mahasiswa. “Kalau sudah penat kelas pas ada jeda waktu emang enaknya ke
sini. Meski banyak mahasiswa lain tapi tetap saja tempatnya cukup tenang dan wangi
kopinya bikin rileks,” komentar Christopher Natanael yang mengaku sering
menghabiskan waktu bersantai di Campus Coffee.
Seperti yang kita ketahui, selain Campus Coffee ada juga
tempat ‘nongkrong’ yang serupa. Le Cafe milik prodi Hospitality sudah lebih
dulu bergelut dibidang ini. Meskipun Le Cafe yang merupakan laboratorium milik
prodi Hospitality selama ini menjadi satu-satunya cafe yang memanjakan pengecap
mahasiswa dengan menu-menu andalannya, rupanya kemunculan Campus Coffee tidak
meresahkan mereka. Le
Cafe memberikan pelayanan bagi mahasiswa, dosen maupun alumni. Salah mahasiswa
Hospitality yang sedang berjaga di Le Cafe, yaitu Bryan Dwiputra angkatan 2012
menyampaikan bahwa harapan mereka akan meningkatnya jumlah pelanggan telah
terwujud oleh sebab itu mereka tidak resah akan kehadiran Campus Coffee karena
menurut mereka orang yang mengerti tetang kopi pasti akan memilih Le Cafe. Rasa
menjadi nilai jual utama yang diandalkan oleh Le Cafe. Rupanya, Campus Coffee
sendiri mengaku tidak menganggap Le Cafe sebagai saingannya. “Kita tidak merasa
Le Cafe sebagai saingan, karena saya yakin kita memiliki kualitas,
profesionalitas dan rasa yang berbeda. Jadi itu semua tergantung selera,” komentar
Ibu Meiwita. Dari sudut pandang kebanyakan mahasiswa
sendiri, kehadiran Le Cafe dan Campus Coffee di kampus Semanggi bukan sesuatu
yang harus dibanding-bandingkan. Masing-masing memiliki kelebihan dan ciri khas
sendiri. Margareta Dea, salah satu mahasiswa yang menjadi penikmat kopi di Le
Cafe dan Campus Coffee berkomentar, “Campus Coffee desainnya lebih menarik dan
tempatnya lebih cozy, kalau Le Cafe tempatnya agak ramai dan ribut. Tapi kalau
soal rasa dua-duanya sama-sama enak.”
(tampilan luar Le Cafe)
(tampilan dalam Le Cafe)
Kehadiran
Campus Coffee dan Le Cafe memperkaya pilihan ‘nongkrong’ di kampus UNIKA Atma
Jaya Semanggi tidak hanya untuk mahasiswa tetapi juga bagi para dosen dan
alumni. Kedunya sama-sama menyediakan kopi terbaik dan makanan ringan yang
cukup memanjakan lidah. Le Cafe mengandalkan kualitas rasa kopi mereka,
sedangkan Campus Coffee lebih mengandalkan desain yang menarik dan kenyamanan
bagi pelanggan. Perbedaan yang cukup signifikan di antara keduanya adalah Le
Cafe menyediakan pelayanan dari mahasiswa Hospitality sendiri sedangkan Campus
Coffee menggunakan tenaga kerja profesional.
No comments:
Post a Comment